Until Death Do Us Apart, I Promise.

Tick tock tick tock tock

Bunyi detik dari jam dinding kayu kecil yang berada di café mungil berwarna coklat muda. Café dengan unsur kayu yang kental. “Silahkan hot chocolate plus browniesnya mbak Rara.” Kata pelayan café itu sambil tersenyum. ”Makasih Nu, browniesnya pasti enak kaya biasa.” Jawabku sambil membalas senyumnya, kemudian pelayan café yang kupanggil Nu itupun memohon diri sambil terus tersenyum kearahku, pelanggan setianya. Kuhirup dalam-dalam aroma coklat hangat yang tersaji manis dalam sebuah cangkir dengan hiasan malaikat dan gagang yang berbentuk sayap. Cangkir yang sungguh cantik Coklat panas merupakan minuman terbaik kedua versiku, yang pertama tentu saja masih di duduki oleh susu vanilla hangat. Tapi, untuk hari ini coklat panas yang menyajikan sedikit rasa pahit diantara rasa manisnya sangat cocok untukku. Ah, untuk hari ini maksudku. Kuteguk sedikit coklat hangatku dan kucuil brownies kesukaanku. Waktu menunjukkan pukul  13.30, artinya masih ada satu setengah jam yang aku punya sebelum dia tiba. Kutengok jendela, sedikit demi sedikit hujan datang melahirkan pemandangan orang tunggang langgang mencari tempat berteduh. Beberapa memilih masuk ke kedai makanan di sebrang café kecil ini, hanya beberapa orang yang memilih bergabung bersamaku untuk duduk-duduk menunggu hujan di bangku kayu nyaman café ini. Walau begitu café ini jauh dari kata ramai, café ini, tenang. Aku merupakan pelanggan setia sejak café ini baru pertama dibuka. Perhatianku teralih dari jendela ke benda berkilauan yang tergeletak manis diantara cangkir coklat dan piring brownies yang kupesan.

Read More

Karena kebahagiaan belum juga datang, maka aku pasti masih ada di dalam daftar Waiting List!
_Nadia Maisa

Karena kebahagiaan belum juga datang, maka aku pasti masih ada di dalam daftar Waiting List!

_Nadia Maisa

kadang orang melewatkan yang ‘terbaik’ hanya untuk sekedar mencari yang ‘lebih baik’.
Nadia Maisa
Ketika pegangan tanganmu mulai melemah, ingatlah betapa pada saat sulit kita saling berpegangan dengan erat. kita pernah sekuat itu. maka kencangkan lagi sabuk jarimu ke jariku, sekarang.
Nadia Maisa
KAMU 3 (lebih dalam dan jatuh cinta)

lagi-lagi aku menulis tentangmu, KAMU.
melihatmu, bunga dalam mataku.
kamu senyumku.
langkahmu sangat panjang menembus beberapa benua depanku.
tak masalah, aku menyukai pria berkaki dan berlangkah panjang.
aku si penyuka kebebasan.
tak apa, aku bisa menunggu sampai langkah panjangmu berbalik menyusuri jalan setapak dan kembali pulang.
tentu saja sewaktu-waktu aku akan menyusul langkah panjangmu.
yang perlu kau lakukan hanyalah menungguku di ujung jalan, tanpa perlu memperlambat langkahmu saat ini.
ujung jalan tempat dimana akhirnya jari jemari kita dapat saling mengait satu sama lain dengan erat.
seperti yang aku bilang, aku senang melihat orang yang mempunyai langkah yang panjang. jadi jangan pernah risau, karena aku sama sekali tak keberatan.
senyumku selalu mengembang seiring dengan langkahmu di negeri sebrang.
sebulan, dua bulan, enam bulan.
kau masih berupa bayang.

Read More

KAMU 2 (Menemukanmu)

menemukan kamu? sulit.
diantara triliyunan wajah yang memadati dunia, yang mana wajahmu?
diantara sekian triliyun pasang mata yang melihat, yang mana matamu?
diantara sekian banyak jumlah mulut yang tersenyum setiap menyapaku, yang mana senyummu? entahlah, aku menemui jalan buntu.
sampai akhirnya aku menemukan sebuah perawalan.
sebuah awal selalu baik, kan?
sama seperti awal kita, ah bukan kamu dan aku.
aku belum berani menggunakan kata ‘kita’, kata penyatu antara kamu dan aku disini. tidak, belum.
manis. kau berawal begitu manis.
satu orang asing yang namanya kuharap menjadi perwujudan dari nyata namamu.
yang datang untuk mencariku.
suatu hari di suatu petang.
pikirku mengatakan aku menemukanmu!
ah tidak bukan, tapi kamu menemukanku atau kita berdua menemukan diri kita satu-samalain? aku tidak tahu.
yang aku tahu aku masih belum beranjak dari sini, tempatku berdiri, tempatku menunggumu di permulaan, tempatku menunggumu sebagai perawalan.
aku tahu kamu berusaha menampakkan diri dari sosoknya.
paling tidak itu harapku.

Read More

Setiap kata yang terlontar darimu merupakan kekuatanku untuk terus berdiri tepat disampingmu, dulu.
Nadia Maisa
Setiap lyric dari sebuah lagu mempunyai makna tersendiri, tapi lyricmu berangsur-angsur hilang makna, dalam hidupku.
Nadia Maisa
Jika kekosongan dapat berubah nama pasti namamu yang akan diukir sebagai gantinya.
Nadia Maisa
Tuan-Tuan Sempurna (?)

hai selamat pagi, siang, sore, malam ah entah kau membaca tulisanku pada waktu matahari berada dimana.
tulisan ini sengaja aku post dengan tidak menyebutkan namamu, atau kalian (?)
karena aku tahu rasanya kurang etis menyebutkan langsung jadi ya silahkan terka sendiri tulisan ini kupersembahkan untuk siapa, dan ah maaf jika ternyata banyak orang yang merasa bahwa tulisanku ini untuk mereka secara pribadi padahal mungkin saja pemikiran mereka salah.
karena aku, tidak akan pernah mempermalukan seseorang terang-terangan di jejaring sosial dimana seluruh dunia dapat membacanya.
berlebihan ? memang, tapi coba pikirkan sebuah account bisa diakses oleh semua orang yang menginginkannya, jadi tolong jaga sedikit tulisan anda, Tuan.
menghina, mencaci, menyindir, entah fisik, sikap, sifat ataupun prilaku orang di jejaring sosial itu memberikan banyak efek yang bahkan kau sendiri mungkin tidak pernah menduganya, salah satunya sakit hati.
ups hati-hati Tuan, jangan biarkan seseorang merasa sakit hati karena komentar tajam dari ketikan jarimu.

Read More